Surga ditelapak kaki ibu merupakan kiasan yang penuh arti yang mendalam dan memberikan konsekuensi kontan terhadap realita kehidupan kita. Seakan tak cukup pula air laut ini dijadikan tinta untuk melukiskan kebesaran kasih seorang Ibu terhadap anaknya. Hampir semua yang kita terima sehingga menjadi seperti ini tak lepas dari jejak langkah seorang ibu, mulai dari saat ibu kita mengandung selama sembilan bulan dan merawat serta membesarkan kita hingga dewasa.
Sangat tepat bila ungkapan yang telah diucapkan seorang tokoh motivator yang cukup ternama Andrie Wongso "Tidak ada alasan untuk tidak mengasihi dan merawat orang tua kita, selama hidup!".
Senantiasa seribu keinginan yang ada dalam hati dan keyakinan yang membuta dalam angan-angan kita membuat hal kecil tersebut terabaikan, tak jarang kita lupa dan tak perdulikan dengan keadaan orang tua kita yang mana dalam jauh dilubuk dan relung hatinya tersimpan rasa sayang dan rindu yang begitu menggunung.
Sungguh sebuah fenomena yang sangat menyayat hati apabila kita baru menyadari segala sikap dan tingkah laku kita kepada kedua orang tua kita setelah melihat mereka tiaada. Kita bersimpuh dan memohon maaf pada gundukan tanah dan batu nisan.
"Surga Anak diTelapak kaki ibu" peribahasa itu tak akan terbantahkan, dikarenakan secara logika sudah sangat jelas fungsi dan peran orang tua pada khususnya seorang ibu. Mari kita luangkan sejenak hati dan fikiran kita untuk merenung mengingat kembali perjuangan seorang ibu dalam menjadikan kita sebagai manusia.
Sembilan bulan ketika ibu mengandung berjuang melawan rasa mual dan mulas disetiap detik waktu, setiap harinya dilalui dengan penuh kesabaran dan harapan doa, agar anak yang dikandungnya menjadi seperti apa yang telah dicita dan didambanya. Kita semua pasti pernah melihat bagaimana keadaan wanita ketika hamil, berbagai pengorbanan pun dilakukan, seorang ibu yang dulu bodynya sangat sexy menjadi sangat tidak beraturan ketika sedang mengandung, semua pengorbanan dilakukan tanpa sarat dan tanpa rasa berkorban ataupun dijadikan korban. Hingga tiba waktunya melahirkan yang sangat memerlukan persiapan mental dan sepiritual yang membaja, menahan sakit yang penuh harapan akan sebuah cita dari cinta yang telah dirinduinya selama sembilan bulan, tetes demi tetes keringat perjuangan semakin membasahi sekujur tubuh, seperti halnya perjuangan hidup dan mati demi terciptanya kehidupan baru.
Perjuangan pun belum berakhir, justru tanggung jawab pun semakin besar setelah kehidupan baru lahir, merawat, membimbing, mendidik dan menghantarkan untuk menjadi manusia sejati dan bukan "Manusia Asal Jadi". Harapan yang telah nyata semakin membesarkan semangatnya segenap daya dan upaya dikerahkan untuk buah hati yang disayangi, harapan yang sederhana tapi cukup mendalam dari orang tua adalah "Biarlah Orang tua harus Susah payah asalkan anakku bahagia" orang tua seakan membenamkan diri dalam peraihan harapan trersebut. Akankah kita masih meragukan dan ingkar terhadap kenyataan yang sudah jelas terpapar.
Sekarang apa yang akan kita berikan setelah kita hidup dan diberikan kehidupan, apakah tidak terlintas dalam hati dan pikiran kita bahwa kita berhutang "Secangkir Darah" kepada kedua orangtua kita yang tidak akan pernah terbayar sampai kapan pun. Apakah kita akan melupakan begitu saja dan menyia-nyiakan jasa kedua orang tua kita???
by:Mas Yon Khan
Senantiasa seribu keinginan yang ada dalam hati dan keyakinan yang membuta dalam angan-angan kita membuat hal kecil tersebut terabaikan, tak jarang kita lupa dan tak perdulikan dengan keadaan orang tua kita yang mana dalam jauh dilubuk dan relung hatinya tersimpan rasa sayang dan rindu yang begitu menggunung.
Sungguh sebuah fenomena yang sangat menyayat hati apabila kita baru menyadari segala sikap dan tingkah laku kita kepada kedua orang tua kita setelah melihat mereka tiaada. Kita bersimpuh dan memohon maaf pada gundukan tanah dan batu nisan.
"Surga Anak diTelapak kaki ibu" peribahasa itu tak akan terbantahkan, dikarenakan secara logika sudah sangat jelas fungsi dan peran orang tua pada khususnya seorang ibu. Mari kita luangkan sejenak hati dan fikiran kita untuk merenung mengingat kembali perjuangan seorang ibu dalam menjadikan kita sebagai manusia.
Sembilan bulan ketika ibu mengandung berjuang melawan rasa mual dan mulas disetiap detik waktu, setiap harinya dilalui dengan penuh kesabaran dan harapan doa, agar anak yang dikandungnya menjadi seperti apa yang telah dicita dan didambanya. Kita semua pasti pernah melihat bagaimana keadaan wanita ketika hamil, berbagai pengorbanan pun dilakukan, seorang ibu yang dulu bodynya sangat sexy menjadi sangat tidak beraturan ketika sedang mengandung, semua pengorbanan dilakukan tanpa sarat dan tanpa rasa berkorban ataupun dijadikan korban. Hingga tiba waktunya melahirkan yang sangat memerlukan persiapan mental dan sepiritual yang membaja, menahan sakit yang penuh harapan akan sebuah cita dari cinta yang telah dirinduinya selama sembilan bulan, tetes demi tetes keringat perjuangan semakin membasahi sekujur tubuh, seperti halnya perjuangan hidup dan mati demi terciptanya kehidupan baru.
Perjuangan pun belum berakhir, justru tanggung jawab pun semakin besar setelah kehidupan baru lahir, merawat, membimbing, mendidik dan menghantarkan untuk menjadi manusia sejati dan bukan "Manusia Asal Jadi". Harapan yang telah nyata semakin membesarkan semangatnya segenap daya dan upaya dikerahkan untuk buah hati yang disayangi, harapan yang sederhana tapi cukup mendalam dari orang tua adalah "Biarlah Orang tua harus Susah payah asalkan anakku bahagia" orang tua seakan membenamkan diri dalam peraihan harapan trersebut. Akankah kita masih meragukan dan ingkar terhadap kenyataan yang sudah jelas terpapar.
Sekarang apa yang akan kita berikan setelah kita hidup dan diberikan kehidupan, apakah tidak terlintas dalam hati dan pikiran kita bahwa kita berhutang "Secangkir Darah" kepada kedua orangtua kita yang tidak akan pernah terbayar sampai kapan pun. Apakah kita akan melupakan begitu saja dan menyia-nyiakan jasa kedua orang tua kita???
by:Mas Yon Khan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar